Lewati ke konten
sanggabiz AITax
Jalur A · Proyeksi Peragaan · data simulasi

Menyusun target yang bisa dipertanggungjawabkan

Target tidak dijawab dengan menaikkan angka tahun sebelumnya 5% atau 10% secara flat. Tujuh metode diadu, pemenangnya dipilih lewat backtesting per jenis pajak, dan jawabannya disajikan sebagai rentang. Diterapkan bersama BPKAD Kota Yogyakarta; seluruh angka di halaman ini adalah data simulasi.

7 metode proyeksi diadu lewat backtesting
11 jenis pajak daerah dimodelkan, termasuk Opsen
11 tahun deret pengamatan yang dibaca model
01

Perilaku wajib pajak — dibaca per entitas, bukan per total

Model bottom-up tidak berangkat dari angka agregat. Ia membaca riwayat pembayaran tiap wajib pajak satu per satu, lalu mengelompokkannya menurut perilaku. Itulah sebabnya AITax menuntut data mentah level transaksi, bukan rekap tahunan.

Recency · Frequency · Monetary

Satu basis WP, empat perlakuan berbeda

Model tidak hanya menjumlahkan setoran. Untuk tiap wajib pajak ia membaca kapan terakhir membayar, seberapa rutin, dan berapa nilainya, lalu mengelompokkan mereka. Kelompok itulah yang menentukan perlakuan — bukan satu pendekatan yang sama untuk semua.

  • Patuh Konsisten46861%
  • Pembayar Fluktuatif25433%
  • Menunggak Baru304%
  • Baru Terdaftar142%

Ketika klaster patuh mendominasi, ruang perbaikan terbesar ada di ekor yang kecil: klaster menunggak. Tindakannya penagihan bersasaran, bukan kampanye massal.

Cara membaca klaster pada dashboard AITax
Sultan

Sering bayar, nilainya besar, baru saja bayar — WP andalan.

Insentif, tax gathering, piagam penghargaan agar tetap patuh.
Tumbuh

Mulai rutin bayar, potensi dinaikkan kelasnya.

Pendampingan pelaporan dan penyesuaian ketetapan.
Stagnan

Bayar standar, jarang ada lonjakan.

Pemantauan rutin; uji silang omzet dengan jejak daring.
Beresiko

Dulu bayar besar/rutin, akhir-akhir ini menghilang.

Surat teguran atau kunjungan lapangan sebelum piutang menumpuk.
02

Multi-model & backtesting — metode dipilih, bukan diseragamkan

Setiap metode diuji memprediksi tahun yang sudah diketahui hasilnya. Yang MAPE-nya terkecil menang. Metode yang dipilih adalah yang paling sesuai dengan karakteristik datanya, bukan satu formula yang diberlakukan seragam untuk semua jenis pajak.

03

Jawaban dalam bentuk rentang, bukan satu angka

Setiap metode mengandung galat dan setiap asumsi mengandung ketidakpastian. Jawaban satu angka tunggal akan menyesatkan — pengambil keputusan perlu melihat sekaligus batas kehati-hatian dan batas ambisi yang masih dapat dipertanggungjawabkan.

Rp754,50 MBatas bawah
Rp798,68 MTitik rekomendasi
Rp849,60 MBatas atas

Batas bawah — skenario kehati-hatian

Penerimaan yang diperkirakan tetap tercapai apabila tidak terjadi perbaikan kepatuhan maupun perluasan basis pajak. Layak dipakai sebagai lantai pagu pendapatan pada dokumen perencanaan.

Titik rekomendasi

Angka yang paling mungkin tercapai dengan kapasitas eksekusi organisasi pada kondisi sekarang, dan menjadi angka yang diusulkan sebagai target.

Batas atas — skenario kapasitas

Penerimaan yang secara ekonomi masih terjangkau apabila tax effort mendekati frontier. Layak jadi sasaran kerja internal, bukan pagu formal — dan bukan nilai TAM maupun SAM.

Yang tidak boleh dilakukan. Batas atas tidak boleh dipindahkan menjadi pagu formal tanpa disertai penambahan kapasitas pengawasan dan penagihan, karena angka tersebut mengasumsikan optimalitas kelembagaan yang belum terpenuhi.
Terhadap realisasi PDRD 2025
Rp724,50 M +10,2%
Terhadap estimasi 2026 (anualisasi Agustus)
Rp782,80 M +2% konservatif
Lebar rentang pajak daerah
11,1% terhadap titik rekomendasi
Jangkar makro · Stochastic Frontier Analysis

Selisih 1,23 poin persentase yang harus dijelaskan

PDRB akomodasi dan makan minum tumbuh 9,84% pada 2025. Dengan elastisitas model makro, penerimaan PBJT Hotel dan Makanan/Minuman semestinya tumbuh 6,35% apabila upaya dan kapasitas pemungutan sudah berada pada batas maksimumnya. Yang terjadi adalah 5,12%. Angka frontier itu bukan ramalan, melainkan batas atas bersyarat.

PDRB akomodasi & makan minum9,84%
Frontier SFA — bila optimal6,35%
Realisasi penerimaan5,12%
  • Melemahnya kepatuhan pelaporan
  • Kebijakan efisiensi belanja perjalanan dinas dan kegiatan pemerintah yang menekan hunian hotel
  • Sebagian ekonomi kota yang bertumbuh di ruang yang tidak terlihat sistem administrasi perpajakan
Batasan metode

Yang belum terukur — dinyatakan terbuka

  • Opsen PKB dan Opsen BBNKB berstatus indikatif: data mikro kendaraan bermotor berada pada pemerintah provinsi dan belum tersedia untuk pemodelan.
  • MAPE hanya tersedia untuk jenis pajak yang targetnya keluar dari model deret waktu; sisanya diuji lewat rekonsiliasi ketetapan dan realisasi berjalan.
  • Batas atas mengasumsikan optimalitas kelembagaan yang belum terpenuhi — ia sasaran kerja internal, bukan pagu formal.
  • Deret tahun guncangan memuat structural break; penanganannya lewat variabel boneka dan pemilihan metode berjangkar pendek, bukan dengan membuang datanya.
  • Hasil penjaringan digital sengaja tidak menjadi masukan model proyeksi, sehingga potensi ekstensifikasi tidak menggelembungkan target.